
Sabtu (5/10), Meskipun aksi #ReformasiDikorupsi pada hari Senin (30/9), Kronologi tentang kekerasan yang diterima oleh Jurnalis LPM Progress, Imam Wahyudin dan Yazid Fahmi adalah tindakan yang tidak seharusnya terjadi. Kekerasan pada Jurnalis Kampus atau Pers Mahasiswa (Persma) menambah deretan panjang kekerasan pada pers dan Persma.
Kekerasan pada Persma Progress terjadi pada aksi hari Selasa (24/9) dan Senin (30/9). Dalam liputannya baik Yazid, sapaan akrab Yazid Fahmi dan Imam menggunakan ID Card Pers dan memiliki surat tugas. Keduanya melakukan tugasnya sesuai dengan kode etik dan kaidah-kaidah jurnalistik. Berikut ini adalah kronologi kejadian dari Persma Progress.
Kronologi kekerasan yang terjadi pada Yazid (24/9)
Pukul 18.42 WIB
Saya berada di jalan tol yang lajurnya mengarah ke Slipi. Saat itu saya
mencoba meliput dengan menampilkan langsung kejadian saat aksi tgl 24
September menjadi ricuh. Saya coba mengaktifkan live instagram di akun
media sosial LPM Progress.
Sejak jam 17.45 LPM Progress memang melakukan live instagram untuk
memperlihatkan situasi terkini. Saya sengaja mengambil dari sisi polisi
karena lebih aman untuk mengambil gambar dan dapat terlihat dengan jelas
kejadian-kejadian yang terjadi.
Ketika 18.45 saya terus live instagram, kamera beberapa menangkap gambar
polisi mengambil batu lalu melemparkan ke arah massa aksi. Yang kedua
kali polisi berpakaian taktikal mengambil batu lalu melemparkannya ke
arah massa aksi yang sedang memegang banner.
Ketika sesudah melempar dia mundur ke belakang tiba-tiba menghampiri
saya dan berkata “kamu ini ngeshot (ambil gambar) ke polisi terus, ke
mahasiswa noh”
Lalu dia berjalan ke belakang saya dan memukul kepala saya dengan
Handy Walkie Talkie yang dipegangnya dan sambil bertanya asal media
saya.
“Dari media mana kamu?”
Saya masih belum menjawab karena memilih mengabaikan.
“Hehhh dari media mana kamu?”
“Saya pers mahasiswa, kenapa memangnya pak?” Jawab saya.
“Oh kamu teman-teman mereka ya”
“Monyet kamu”
“Pergi kamu” Sambil mendorong-dorong.
Yang saya baru pahami saat itu adalah posisi saya berada di antara para
polisi itu. Saya masih mencoba menjawab, tapi dari belakang ada yang
berteriak “Ndan, hapenya ndan”.
Kata-kata kebun binatang keluar dan menyuruh saya pergi. Saya memilih
mundur ke belakang karena mendengar teriakan hape saya akan diambil.
Saya memilih mengamankan alat-alat saya.
Sedangkan Imam mendapati kekerasan pada hari Senin (30/9), meskipun ponsel miliknya sempat disita petugas masih dapat kembali berkat bantuan jurnalis lainnya.
Awal
mula kejadian itu kondisi sudah ricuh dan saya sedang mengambil
beberapa foto dan video, posisi saya ada di jalan tol arah Grogol dan
para polisi sedang berjaga di Jl. Gatot Subroto arah Grogol, saat ada
beberapa masa berteriak, “Jangan pukulin temen gw woy” Saya langsung
berlari menuju ke kerumunan polisi yg di jalan itu, memang sudah ada
kejadian pukulan dan penarikan massa saat itu sontak saya langsung
merekam. Pada saat ngerekam posisi tangan saya di luar dari tembok besar
sambil megang HP, dan ketika itu langsung ada seorang polisi dengan
sengaja memukul tangan saya sampai HP saya terjatuh sambil bilang
“ngapain kamu rekam-rekam”, sambil mengambil HP saya. Karena kondisi
saya sedang di dalam tol dan petugas itu sedang di luar jalan dan di
batasin tembok besar jadi saya tidak bisa mengambil hpnya langsung lalu
saya bilang “HP saya pak jangan diambil”.
“Kamu ini dari mana video-videoin aja”
“Saya pers pak, saya sedang bekerja” Sambil menunjukan kartu nama Pers
“Pers Pers Pers apaan dari mana kamu siapa nama kamu”
“Balikin dulu pak HP saya, saya pers mahasiswa pak jangan ganggu tugas saya”
Sempet cekcok dan pak polisi itu langsung ingin pergi tapi ditahan sama teman pers lain
“Ini kawan saya pak balikin HPnya privasi dia itu jangan pergi pak” Kata temen Pers lain yg ada di jalan tol samping saya
“Bapak mau kemana balikin dulu hpnya” Kata temen Pers yang berada di seberang samping polisi itu
“Jangan profokasi-profokasilah hargain kerja saya, saya sudah tidak
tidur 3 hari 3 malam karna ini, klo kamu mau ambil ayo ketemu saya di
dalam” Kata polisi
“Lohh ga bisa gitu pak itu privasi dia jangan di dalam-dalam kasih di sini juga” Kata teman-teman Pers lain
“Saya juga tugas pak, bapak hargain juga tugas saya jangan ambil-ambil seenaknya, nama bapak siapa emang? ” Kata saya
“Diam kamu! Hapus videonya dulu baru saya balikin”
“Iya kita hapus tapi sini HP saya “
“Nanti dulu saya foto dulu kamu”
“Ngapain pak foto-foto saya salah apa, tugas saya ini”
“Mau balik tidak hpnya? Saya foto dulu”
“Yaudah bang tenang-tenang foto aja dulu gak apa-apa” Ujar temen Pers lain
“Kamu ini jangan macam-macam yaa,” ujar polisi sambil mengambil foto saya
Setelah itu HP sudah saya ambil sambil menghapus video dihadapan dia
Dengan memakai rompi saya tidak tau nama dia siapa dan ketika saya tanya dia tidak jawab.
Kekerasan pada jurnalis pada aksi tgl 24 dan 30 September, menjadi bukti bahwa petugas belum bisa menghargai kerja-kerja jurnalistik dan menganggap kerja-kerja jurnalistik adalah memprovokasi. Padahal salah satu fungsi jurnalistik sebagai kontrol sosial adalah Journalism Watchdog atau Jurnalis Penjaga yang mengawasi setiap kekuasaan agar tidak disalahgunakan.
Catatan:
Sebelumnya pernah dimuat di website LPM Progres, http://lpmprogress.com/post/kronologi-kekerasan-pers-mahasiswa-progress-pada-aksi-reformasidikorupsi